Tentang Penenang


Ku kira akulah yang akan jadi Pemenang, nyatanya aku hanya menjadi penenang

Ketika aku mencintanya Dengan Sungguh Ternyata Ia Datang Hanya Untuk Singgah. Ku korbankan Semua Waktu dan Fikiranku untuk Orang Yang Pernah Membuatku Merasa Bahwa Aku ini adalah Orang Yang Begitu Sangat Beruntung di Dunia ini. Hingga Akhirnya, Keberuntungan itu Membawaku Kedalam Keadaan dimana aku menjadi Orang Yang Paling Jatuh, jatuh karena semua Harapan Yang telah ia Berikan Membuatku Hilang Arah Seakan Tak ada Tujuan. Semesta Sedang Tidak Berpihak Kepadaku, Seakan Aku di Kucilkan dan di Asingkan dari Segala Perjuangan Yang Telah Aku Lakukan. Bodoh Lagi-Lagi Aku Menyalahkan Kenyatan Yang Ada. Tapi Semua Terjadi Begitu Saja, Setidaknya Jika Memang Tidak Bisa Memberikan Kesan Jangan Kau Tinggalkan Goresan. Taukah Kamu Betapa Hebatnya Dirimu, Kamu Pandai Merangkai Pertemuan Sedangkan Aku Sangat Payah Menghadapi Perpisahan. Mungkin Untuk Saat ini Aku Hanya Perlu Menerima Sebab Menerima Bukanlah Suatu Hal Yang Hina Karena ada Sebab Yang Tak Bisa Ku Tentang. Hingga Akhirnya Kehendak Yang Tak Berpihak Menjadi Jalan. Terimakasih atas Semua Waktumu yang Telah Kau Luangkan Untukku. Terimakasih Karena Pernah Membuatku Merasa Utuh. Terimakasih Karena Pernah Menjadi Bagian dari Cerita Hidupku. Kau adalah Rinduku Yang Tak Pernah Selesai Tempatku Berkeluh Kesah Meski Aku Sangat Lelah dan Aku Pura – Pura Tidak Lelah. Sebab di Mataku Kau Itu Nyata. Tak Hanya di Kehidupanku Tetapi Nyata Juga di Hatiku. KAU SEMPURNA Segala Doa, Usaha, Perjuangan, Kasih dan Sayang, Semua Ku Lakukan Demi Kamu. Aku Bahagia Menjadi Aku Yang Mencintaimu.

Komentar