( AKHIR ) Setelah Malam


Malam Ini Aku Sedang Bahagia, Memikirkan Banyak Kebahagiaan Untuk Hari Hari Di Masa Depan. Dalam Setiap Senyum Dari Bibir Ini Ada Dirimu Sebagai Pencetus. Aku Tidak  Ingin Malam Berlama-Lama Hadir Sebab Membayangkan Lamanya Hari Esok Untuk Bertemu Denganmu Adalah Kekesalan. Aku Selalu Butuh Waktu Berlama-Lama Denganmu. Bahkan Untuk Bercerita Perihal Konyol Sekalipun. Hingga Saat Itu Tiba Binari Matamu Memancar Tepat Didepanku. Aku Merasa Waktu Terhenti Selama Beberapa Detik. Sebelum Sepenggal Kata Dari Mulutmu Kembali Membuat Laju Waktu Berjalan. Entah Tercipta Dari Apa Dirimu. Aku Merasakan Aroma Baru Surga Di Setiap Tarikan Nafasmu. Aku Merasakan Kebahagiaan Yang Bersumber Dari Dirimu. Kau Sangat Istimewa Melebihi Semesta Dengan Semua Hal Yang Mengisinya. Atau Kau Adalah Malaikat Dari Surga Yang Sengaja Di Utus Tuhan Untuk Membuatku Merasa Begitu Beruntung. Aku Tidak Bisa Menolak Tubuhku Melemah Atas Cerita Hati Kita Yang Baru Saja Dimulai. Kau Tak Boleh Beranjak Jangan Biarkan Kebahagiaan Ini Terhenti. Aku Tak Sanggup Jika Melihat Punggungmu Membelakangiku Untuk Pergi Menuju Ke Keadaan Lain. Duduk Saja Disini. Biarkan Ruang Ini Dipenuhi Tawa Yang Keluar Dari Mulut Kita. Aku Masih Ingin Berlama Lama Denganmu Bercerita Perihal Apa Saja Dengan Tujuan Memancing Senyummu Terlontar Sekali Lagi. Tapi Waktu Berpisah Pun Datang . Meninggalkan Aroma Bahagia Dan Kesedihan . Kau Pergi Untuk Melanjutkan Aktifitasmu. Sementara Aku Diludung Dilemma Dengan Segala Rasa Yang Pernah Kau Hadirkan. Jika Semua Doa Dapat Tuhan Kabulkan Maka Aku Akan Merakit Banyak Doa Yang Berisi “ Tuhan Jangan Pernah Pisahkan Aku Dengan Dirinya Walau Sekejam Apapun Keadaan “
Aku Menghargai Sebuah Kejujuran, Namun Bukan Dalam Hal Menyatakan Perasaan Bosan, Jenuh, Dan Menyudahi Kita Untuk Tak Lagi Bersama. Tak Akan Ada Perpisahan Yang Tak Melukai Hati Seseorang Yang Masih Begitu Berharap Orang Yang Di Cintainya Untuk Tetap Menetap. Tak Seharusnya Memilih Pergi Tak Semestinya Kamu Meninggalkan Aku. Kita Bisa Saling Memperbaiki Jika Kita Menemukan Kesalahan Dan Bukan Memilih Untuk Meninggalkan. Bukan Salah Sebuah Keadaan Namun Hatimu Yang Lebih Pantas Kusalahkan. Kamu Menyatakan Bahwa Lelah Untuk Tetap Bertahan, Ketika Aku Masih Ingin Berusaha Untuk Tetap Mempertahankan. Kamu Menyatakan Bahwa Jenuh Pada Keadaan, Ketika Aku Masih Ingin Selalu Memperbaiki Diri. Aku Tetap Membuatmu Merasa Nyaman Didekatku , Sedangkan Kamu Begitu Lemah Hingga Mampu Di Kalahkan Sebuah Rasa Jenuh. Mungkin Sedari Awal Kamu Tak Pernah Bersungguh Sungguh Kamu Tak Pernah Berusaha Mencintaiku Dengan Sungguh. Mempertahankan Memang Bukan Hal Yang Mudah Untuk Di Lakukan. Kenyataannya Janji Memang Bukan Sesuatu Yang Perlu Terlalu Diyakini. Setelah Janji Terucap Dihatiku Kamu Bersedia Untuk Menetap. Pada Akhirnya Kamu Semakin Mendekati Ingkar Janjimu Sendiri. Jika Saja Kamu Bisa Lebih Sedikit Lebih Sabar Lagi Kita Tak Perlu Berakhir Dan Saling Menyakiti. Aku Bahkan Tak Pernah Memintamu Menjadi Oranglain Untuk Dapat Tetap Ku Cintai. Menerima Apa Saja Yang Ada Pada Dirimu Seperti Itulah Aku Mencintaimu. Terkadang Menerima Apa Adanya Bukanlah Sebuah Alasan Setiap Hati Tak Akan Pernah Di Tinggalkan. Sebab Cinta , Tidak Perlu Meminta Seseorang Yang Kamu Cintai Menerima Apa Adanya. Menerima Apa Adanya Seolah Menjadi Omong Kosong Ketika Kekurangan Menjadi Bahan Pertimbangan. Dan Pada Akhirnya Memilih Meninggalkan Untuk Menjadi Oranglain Yang Bisa Membuat Dirinya Merasa Cukup.

Komentar